Home Travel Destinasi 5 Tempat Wisata Angker di Jepang

5 Tempat Wisata Angker di Jepang

612
0
SHARE
Aokigahara. Foto: metropolution.com

Diamma.com- Jepang memiliki objek wisata yang unik dan beragam. Sehingga menarik untuk dikunjungi oleh para wisatawan. Namun disisi lain, Jepang juga banyak memiliki tempat angker lho. Bahkan ada yang dijadikan sebagai tempat rekreasi. Maka dari itu, wisatawan semakin tertarik serta penasaran dengan area tersebut, ada juga yang melakukan uji nyali di sana. Penasaran seperti apakah tempat angker tersebut? Simak berikut ini!

1. Lautan Hutan Jepang, Aokigahara

Hutan Aokigahara. Foto: jp.zekkeijapan.com

Hutan yang terletak di kaki gunung Fuji, dijuluki sebagai ‘Lautan Hutan Jepang’. Hal tersebut dikarenakan, hutan ini sangat lebat sampai-sampai cahaya matahari pun sulit menembus ke dalamnya. Bahkan sering ditemukan mayat korban bunuh diri di dalam hutan tersebut.

Selain terdapat kisah mistis tentang keberadaan makhluk supranatural, di dalamnya juga terdapat semacam tarikan yang biasanya dialami oleh penjelajah hutan. Tarikan itu adalah tarikan medan magnet yang kuat, sehingga dapat mengacaukan kompas. Tradisi bunuh diri tersebut sudah ada sejak zaman Keshogunan.

2. Desa Tua Inunaki

Desa Tua Inunaki. Foto: strangilla.com

Nama Inunaki sendiri berarti lolongan anjing. Dahulunya ada legenda yang mengatakan bahwa, seekor anjing yang dibunuh oleh seorang pria karena selalu melolong. Padahal, maksud dari lolongan anjing itu adalah peringatan bahwa akan ada marabahaya yang datang ke desa. Benar saja, si pelaku pembunuh anjing tersebut tewas diserang naga.

Masih menjadi perdebatan mengapa teknologi tidak dapat berfungsi di daerah yang satu ini. Konon kabarnya di sini masih terdapat praktek kanibalisme, penampakan makhluk halus bahkan hubungan seksual sedarah. Demi keamanan bersama, pemerintah Jepang akhirnya memasang papan bertuliskan “hukum dan konstitusi tidak berlaku disini.”

3. Taman Bermain Takanonuma

Taman Bermain Takanonuma. Foto: japanesestation.com

Semua berawal terjadinya gelombang ekonomi di Jepang tepatnya di Perfektur Fukushima. Pada waktu itu, terjadi kecelakaan yang mengakibatkan taman bermain ini ditutup. Walaupun ditutup, pada era 1980an, taman bermain Takanonuma menjadi tempat favorit bermain film horor.

Melansir dari Artforia.com, daerah ini tidak dimasukkan ke dalam peta Jepang. Bagi yang sedang berada di wilayah Fukushima, sebaiknya menjauhlah dari tempat ini dikarenakan sering terlihat penampakan makhluk halus, fenomena-fenomena ghaib, dan lainnya. Namun sekarang, taman ini sudah tidak ada lagi dan digantikan dengan panel-panel matahari. Tetapi, banyak warga sekitar yang mengaku ketika berjalan melewati area tersebut masih merasakan aura mistis di taman bermain Takanonuma.

4. Pulau Iwo Jima

Pulau Iwo Jima. Foto: Getty Images/iStockphoto/jriedy

Pada saat Perang Dunia II sedang berlangsung, pulau ini dijadikan sebagai basis pertahanan militer Jepang. Akibat dari peristiwa berdarah tersebut, banyak korban yang tewas baik dari kedua pihak militer maupun warga sipil.

Pulau ini juga terkenal berbahaya, dikarenakan terdapat gunung berapi Suribachi yang masih aktif hingga saat ini dan berpotensi menimbulkan bencana tsunami. Warga setempat mengaku sering melihat penampakan roh-roh para prajurit yang tewas ketika Perang Dunia II berlangsung.

5. Himuro Mansion

Salah satu ruangan Himuro Mansion. Foto: japanesestation.com

Bangunan yang letaknya tidak jauh dari kota Tokyo ini, selain terkenal angker juga menjadi objek wisata. Sehingga banyak didatangi oleh wisatawan. Penyebab angkernya bangunan ini adalah karena pada zaman dahulu kala, ada sebuah keluarga yang melakukan sebuah ritual mistik dengan mengorbankan salah satu anggota keluarganya yang masih gadis.

Hal tersebut dilakukan demi menghindari karma dan berbagai macam bentuk marabahaya. Beberapa pengunjung mengaku sering melihat arwah keluarga Himuro berkeliaran, terutama ketika menjelang malam. Konon, keluarga Himuro juga tewas dikarenakan arwah sang gadis yang menuntut pembalasan dendam akibat dirinya menjadi tumbal.

Penulis: Devan Aidan Grimaldi
Editor: Rianty Danista