Home Kampus Ketika Anak Muda ASEAN Berkarya

Ketika Anak Muda ASEAN Berkarya

634
0
SHARE

Saat Globalisasi dianggap sebagai momok, para anak muda ASEAN plus China ini justru menjawab tantangan tersebut dengan karya yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Oleh Kharizma Ahmada / Foto: Kharizma Ahmada

Editor: Rionaldo Herwendo

Diamma – Bertempat di Universitas Budi Luhur dan berlangsung pada tanggal 5 – 9 Juni 2011, berlangsung acara ASEAN + 3 Youth Inventors yang mengangkat tema “Creative Technology for Better ASEAN” dimana acara ini dilakukan bekerjasama dengan Kementerian Pemuda & Olahraga serta LPKM Mestro.

Acara ini sendiri juga menampilkan beberapa program seperti dua talk show, yaitu “Today’s Future for Environmental  Sustainability” dan “Appropriate Technology for Better ASEAN”, Eksibisi kreativitas, malam budaya ASEAN serta penampilan musik dan tarian.

Para peserta sendiri  terdiri dari anak-anak muda dari 10 Negara ASEAN Plus Cina, Jepang dan Korea Selatan. Walaupun yang hadir hanya 10 negara karena Brunei, Jepang dan Korea Selatan memilih absen dalam acara ini dan wakil dari Indonesia dalam acara ini adalah para pelajar SMAN 28.

Dalam acara ini para peserta juga diajak tur ke Puspiptek di Tangerang pada hari Rabu, lalu Gedung Asia Afrika di Bandung pada hari Selasa dan Saung angklung Mang Udjo yang juga di Bandung di hari yang sama.

Menurut Linda Islami, selaku ketua dari Universitas Budi Luhur menyatakan bahwa tujuan dari acara ini adalah untuk mencari para pemuda – pemudi ASEAN yang memiliki invention atau penemuan – penemuan baru  dan dengan dukungan dari Mestro yang memang banyak menampilkan penemuan-penemuan.

Seperti penemuan dari Singapura yang menampilkan penemuan cara menyiram tanaman dengan otomatis, sehingga memungkinkan kita yang sibuk bekerja untuk melakukan kegiatan tersebut.

Kemudian juga ada penemuan dari Indonesia yang menciptakan alat pengangkut sampah otomatis dari dalam sungai dimana tujuannya ini untuk membersihkan sungai dari sampah dan menciptakan lingkungan Jakarta yang bersih.

Sementara Bapak Eko, selaku wakil dari Kemenpora dan juga LPKM Maestro mengungkapkan bahwa acara ini berlangsung lancar dan memang digelar untuk merayakan keketuaan Indonesia di ASEAN serta dalam rangka mencari para pemuda – pemudi terbaik dari 10 Negara ASEAN plus 3 negara yaitu China, Jepang dan Korea Selatan.

Bapak Eko sendiri juga mengharapkan ke depannya acara ini dapat terus berlangsung karena acara ini dapat menjadi momentum bagi para pemuda – pemudi ASEAN menghadapi arus globalisasi karena kencangnya arus globalisasi membuat pemuda-pemudi ASEAN mau tak mau harus siap bersaing dengan negara-negara lain yang telah mapan.

Acara ini sendiri ditutup dengan malam keakraban dengan penampilan budaya dari masing-masing negara peserta dan diakhiri dengan lagu “We Are Unity” yang dbawakan delegasi Laos, dimana lagu ini memang bertuuan untuk menyatakan bahwa ASEAN adalah satu.

Dalam acara ini juga diumumkan penemuan terbaik jatuh pada Delegasi Singapura. Sedangkan penemuan Favorit jatuh pada delegasi dari Malaysia yang penemuannya tentang alat untuk anak-anak dan Indonesia memenangkan Best Host.

Kesan Peserta

Dalam acara ini sendiri rata-rata peserta mengaku terkesan dapat mengikuti acara ini. Seperti Mimi, peserta asal Laos yang mengaku sangat senang bisa bergabung dalam acara ini dan dapat mengenal banyak teman baru. Ia juga mengaku senang dengan makanan di Jakarta terutama Sate dan Nasi Goreng.

“Sata suka Satay dan juga Nasi Goreng. Sangat enak,” ujar Mimi.

Sementara Michelle, peserta asal Malaysia mengaku sangat senang bisa pergi ke Jakarta untuk pertama kalinya dan melihat keramahan orang Indonesia. Ia bahkan mengaku sama sekali tidak terganggu dengan isu hubungan Indonesia dengan Malaysia, bahkan ia juga sempat mengeluarkan statement bahwa Indonesia dan Malaysia baik-baik saja.

Kedepannya acara ini diharapkan dapat meningkatkan jalinan komunikasi dan jaringan bagi para pemuda-pemudi ASEAN sehingga seluruh pemuda-pemudi ASEAN dapat bersatu dan saling mengenal satu sama lain.

Kabul sendiri selaku panitia yang juga Menteri Luar Negeri Budi Luhur mengatakan bahwa harapannya,  ke depannya Pemuda-Pemudi Indonesia bsia terinspirasi dari pemuda-pemudi ASEAN dan mampu membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Dan inti dari acara ini sendiri adalah bahwa kreatifitas sangat dibutuhkan di dunia yang sedang digempur globalisasi dan liberalisasi seperti saat ini, dan meleknya pemuda untuk teknologi sangat penting di era seperti ini. Jadi, siapkah Indonesia?