Home Entertainment Gaya Hidup Kisah Abu, Pemuda Asal Jepara yang Berjalan Kaki Menuju Gunung Kerinci

Kisah Abu, Pemuda Asal Jepara yang Berjalan Kaki Menuju Gunung Kerinci

497
0
SHARE
Abu Syamsudin saat mendaki Gunung Kerinci, Provinsi Jambi. Foto: kerincismarttourism.com

Diamma.com- Mendaki gunung menjadi salah satu hobi yang digemari anak muda saat ini. Tentunya, kegiatan ini membutuhkan persiapan yang matang, baik dari fisik, mental, perlengkapan maupun akomodasi untuk menuju lokasi pendakian. Hal ini berbeda dengan Abu Syamsudin, pria asal Purwogondo, Jepara yang mendaki Gunung Kerinci.

Ia rela berjalan kaki ratusan kilometer pada September 2019 lalu hanya dengan menggunakan sandal. Berdasar pantauan, pria ini rela tidak menaiki kendaraan, demi memenuhi keinginannya untuk mendaki Gunung Kerinci dengan bermodal sandal sederhana dan pakaian seadanya.

Perjalanan pria kelahiran 1991 ke puncak tertinggi kedua Asia Tenggara ini mendapat pengawalan dari beberapa pendaki. Mulai dari tahap awal, kemudian sampai shelter ketiga hingga akhirnya sampai puncak gunung yang terletak di Provinsi Jambi tersebut.

Mengutip dari kerincismarttourism.com, Bupati Kerinci, Adirozal menyambut baik kedatangan seorang pendaki yang berjalan kaki dari Jepara hingga sampai ke Kerinci, karena Abu ini berjalan kaki maka viral di media sosial dan semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia.

“Kemarin beliau (Abu Syamsudin) sudah sampai puncak Gunung Kerinci yang didampingi beberapa guide. Hari ini kita silaturahmi dan sarapan bersama dengan beliau serta bersama beberapa teman lainnya,” ungkap Adirozal pada Rabu (18/3).

Kemudian Bupati tersebut menyebutkan kepada Abu Syamsudin bahwa sangat takjub dengan keindahan alam yang dimiliki oleh Kerinci.

“Kami juga sampaikan kepada Abu, selain Gunung Kerinci, masih banyak wisata alam Kerinci seperti Danau Kaco, Danau Gunung Tujuh, dan Air Terjun yang keindahan alamnya tidak kalah dengan Gunung Kerinci,” sebutnya.

Perjalanan Abu adalah sebuah perjalanan sekaligus penyemangat bagi kita, karena hobi tidak perlu disalahkan dan keinginan seseorang tidak perlu dihentikan.

Penulis: Anindita Safira
Editor: Faradina Fauztika