Home News Kisah Dokter Jiemi yang Sering Ditolak Warganet Karena Tweetnya

Kisah Dokter Jiemi yang Sering Ditolak Warganet Karena Tweetnya

286
0
SHARE
Dokter Jiemi saat ditemui di TCC Batavia Tower One. Ia memberikan penjelasan pada audiens seputar menjadi viral di Twitter. Foto: Diamma.com/Adhyasta Dirgantara

Diamma.com – Salah satu psikiater Indonesia yang bergerak di sosial media Twitter untuk memberikan pemahaman seputar kesehatan mental, Dokter Jiemi Ardian, mengungkapkan keluhannya terkait banyak warga Twitter yang menolak setiap tweetnya. Apalagi jika tema yang ia angkat seperti bunuh diri, di mana ini merupakan topik yang sangat krusial.

“Setiap saya ngetweet pasti selalu ada balasan yang gak suka, yang triggered juga banyak. Terutama tema-tema yang krusial seperti bunuh diri. Memang tricky, tapi isu ini harus diangkat,” ujar Jiemi di TCC Batavia Tower One.

“Ketika saya melihat ada orang yang ngetweet ingin bunuh diri, saya tidak pernah mention ke orang yang sedang mengalami penderitaan tersebut. Melainkan bikin topik baru dengan harapan si penderita membaca hasil tulisan saya di Twitter,” tambahnya.

Meski demikian, pria yang memiliki followers sebanyak 126.000 di Twitter ini mengaku memang topik kesehatan mental di Indonesia saat ini masih terstigma. Maka dari itu penolakan pasti ada.

“Topik kesehatan mental masih terstigma di Indonesia. Jadi informasi yang tepat kalo itu diajukan pasti banyak ditolak karena kebiasaan di masyarakat tidak begitu. Contohnya adalah tentang depresi. Ide ini kalo disampaikan ke masyarakat awam tentunya tidak bisa diterima. Apalagi di kalangan orang-orang yang sudah terlanjur menganggap orang depresi itu orang lemah,” keluhnya kepada Diamma.com di lokasi.

“Sebenarnya wajar terjadi penolakan karena isu ini masih banyak yang belum bicara. Jadi wajar saja kalau masih banyak yang tidak setuju. Apalagi kalau tweetnya makin ramai, maka makin banyak pula yang menolak,” pungkas Jiemi.

Sebagai informasi, Jiemi mulai menyebarkan topik seputar kesehatan mental sejak tahun lalu. Baginya, ini merupakan hal yang menyenangkan karena menurutnya sudah menjadi tugas dia sebagai seorang dokter.

Reporter: Adhyasta Dirgantara
Editor: Gadis Ayu Maharani