Home News Tradisi Warga Tiongkok Saat Imlek

Tradisi Warga Tiongkok Saat Imlek

710
0
SHARE

IMG_8399Diamma.com – Tahun baru Tiongkok atau Imlek tak lepas dari tradisi-tradisi yang cukup unik dan menarik. Tradisi tersebut sudah berlangsung sekian lama dan turun temurun dilakukan. Namun, sudahkah anda mengetahui tradisi unik dan menarik pada perayaan imlek umat Tiongkok tersebut? Diamma.com akan memberikan informasi mengenai tradisi yang lekat dengan Imlek.

1. Membersihkan Rumah

Membersihkan rumah sebelum perayaan Imlek dipercayai umat Tiongkok sebagai buang sial dan membersihkan segala keburukan agar keberuntungan datang menghampiri rumah tersebut di tahun yang baru.

2. Pernak-Pernik Berwarna Merah

Perayaan Imlek yang diwarnai pernak-pernik berwarna merah itu ternyata punya cerita tersendiri bagi umat Tiongkok. Dalam mitologi Tiongkok, warna merah adalah warna yang paling ditakuti oleh nian. Nian merupakan sejenis binatang buas yang hidupnya di dasar laut atau di gunung. Pasalnya, nian sering muncul pada saat Imlek untuk menggangu manusia terutama anak kecil. Maka dari itu, perayaan Imlek dimeriahkan dengan warna merah agar perayaan tidak diganggu oleh nian.

3. Membagi-Bagikan Angpao

Angpao melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik. Biasanya, angpao dibagikan kepada anak-anak kecil atau orang kurang mampu agar mereka bisa ikut merasakan kegembiraan Imlek.

4. Kue Keranjang

Kue yang terbuat dari adonan tepung ketan dan gula dengan tekstur kenyal itu merupakan kue khas yang wajib ada pada perayaan Tahun Baru Imlek. Kue keranjang yang disebut juga sebagai Nian Gano tersebut mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, tujuh hari menjelang tahun baru Imlek, dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Dan kue keranjang tidak dimakan hingga hari ke-15 setelah Imlek yang biasa disebut perayaan Cap Gomeh.

5. Hujan

Imlek juga sangat identik dengan turunnya hujan. Bagi masyarakat Tionghoa, hujan sepanjang perayaan Imlek dikaitkan sebagai banyaknya rezeki yang datang di muka bumi.

 

Reporter : Edward S Baringbing / Fotografer : Sofiando Finailyawan

Editor : Rosa Febryanty Razak

(dikutip dari berbagai sumber)