Home News Tradisi Sembahyang Suku Tionghoa

Tradisi Sembahyang Suku Tionghoa

957
0
SHARE
IMG_8399
seorang wanita sedang sembahyang di Vihara

Diamma.com – Jumat, 31 Januari 2014 lalu suku Tionghoa baru saja merayakan tahun baru imlek. Pada tahun baru imlek, suku Tionghoa melakukan sembahyang sebagai ucapan syukur sebelum merayakan kemeriahan tahun baru imlek.

Bersama keluarga dan kerabat, pada pukul 00:00 WIB suku Tionghoa beramai-ramai pergi ke vihara untuk melakukan sembahyang sekaligus memanjatkan doa dan memohon berkat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Seperti yang terlihat di Vihara Dharma Bhakti, Glodok, Jakarta Barat, suku Tionghoa melakukan sembahyang dengan sangat khusuk.

Daryanto, salah satu suku Tionghoa yang juga menjadi pengurus Vihara Dharma Bhakti menjelaskan tentang cara suku Tionghoa berdoa kepada Tuhan.

1. Menyalakan Lilin
Lilin yang melambangkan penerang dinyalakan terlebih dahulu sebelum melakukan sembahyang. Lilin berfungsi sebagai alat untuk membakar hio (dupa) dan kertas kim (kertas emas).

2. Persembahan Untuk Tuhan Yang Maha Esa
Setelah lilin dinyalakan, suku Tionghoa mulai membakar hio atau dupa yang berjumlah sekitar tiga puluh batang. Setelah hio dibakar, suku Tionghoa langsung memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan memegang erat hio dan diangkat setinggi dahi sambil berputar mengikuti arah mata angin. Setelah selesai memanjatkan doa untuk Tuhan Yang Maha Esa, tiga batang hio lalu diletakan di wadah yang telah disediakan.

3. Persembahan Untuk Para Dewa
Setelah memanjatkan doa untuk Tuhan Yang Maha Esa, suku Tionghoa masuk ke dalam sebuah ruangan dimana didalam ruangan tersebut terdapat banyak patung dan tulisan-tulisan para dewa. Mereka memanjatkan doa dengan menggunakan hio. Setelah itu tiga batang hio ditaruh kembali diwadah yang telah disediakan.

4. Membakar Kertas Kim
Setelah melakukan persembahan kepada dewa-dewa, suku Tionghoa langsung membakar kertas Kim atau kertas emas yang bermakna bahwa emas sebagai hasil syukur mereka.

5. Pelepasan Burung
Pelepasan burung adalah tradisi terakhir dalam persembahyangan suku Tionghoa. Pelepasan burung ini memiliki arti umur yang panjang dan adanya saling tolong menolong antar sesama mahluk ciptaan Tuhan.
 

Reporter : Edward S Baringbing  / Fotografer : Sofiando Finailyawan

Editor : Rachma Putri Utami