Home News “Kicauan” Sang Akun Anonim

“Kicauan” Sang Akun Anonim

700
0
SHARE
Logo Twitter

Diamma.com – Setelah sukses Mark Zuckerberg mendirikan dan mengembangkan facebook, kini kesuksesan tersebut juga telah diraih oleh Jack Dorsey, sang pendiri jejaring sosial micro blogging, atau yang biasa dikenal dengan twitter.

Twitter yang terlihat lebih simple dibanding jejaring sosial lainnya, kian hari semakin banyak jumlah penggunanya. Seperti halnya di Indonesia, menurut informasi hal ini terbukti bahwa Indonesia menduduki peringkat keenam sebagai negara pengguna twitter terbanyak di dunia yang memiliki kurang lebih 19,5 juta akun. Selain itu faktor  kecanggihan gadget yang menawarkan aplikasi twitter, mampu menambah “keakrakraban” bagi para pecinta jejaring sosial.

Tweet-followers-following, kata-kata tersebut pastinya sudah tidak asing lagi bagi para pengguna. Pengguna dapat langsung tweet (berkicau-red) berupa status updates, sedangkan followers & following merupakan teman yang akunnya akan beredar di timeline kita. Begitulah kira-kira sedikit kesimpulan konsep kerja jejaring sosial ini.

Memilih-milih teman (following-red), menurut saya pribadi dirasa perlu. Akun-akun cerdas layaknya portal berita, keagamaan, bahkan akun anonim berupa motivasi, dan semacamnya, terbukti memberikan informasi juga menambah wawasan serta khazanah bagi para pembaca.

Akun anonim alias akun yang penggunnya merahasiakan identitas aslinya, kerap kali muncul menginspirasi banyak orang. Namun bagaimana dengan akun anonim yang mengabarkan berita-berita miring, khususnya mengenai seluk-beluk persoalan negara ini?. Pasalnya tidak sedikit followers yang dimiliki oleh akun (anonim negatif-red) tersebut, terhitung ribuan bahkan lebih. Artinya akun tersebut cukup menarik untuk diikuti.

Beberapa faktor yang membuat banyak akun tersebut bermunculan, bisa jadi berawal dari kegelisahan, hilangnya rasa kepercayaan, serta keprihatinan terhadap lemahnya sikap kepemimpinan sang presiden, bobroknya kinerja sang wakil rakyat, pelanggaran hukum dan banyak lagi. Kebanyakan akun anonim mengemas imagenya sebagai pembenci kebohongan, pembenci koruptor, ingin mencerahkan anak bangsa, dsb. Sedangkan pembahasannya tidak jauh merupakan persoalan negara. Respon dari followers aktif cukup banyak, terlihat tidak sedikit yang meretweet statementnya.

Beberapa contoh akun yang dimaksud ialah @TrioMacan2000, @Vampire_RI, @kusuma_putri99, @gurita_gLobaL, dan masih banyak lagi akun-akun sejenis, yang tweetnya khusus membahas persoalan politik diluar dugaan.

Pendoktrinan secara halus pun terjadi, ketika topik yang dibahas semakin dalam bahkan ‘kelewat batas’. Mengapa demikian? Karena tidak jarang si admin ‘blak-blakan’ membahas  masalah pribadi sang public figure (orang-orang yang pernah atau sedang berkepntingan di Negara ini-red).

Pembahasan yang terlampau mendalam tersebut, sulit untuk dipastikan kebenarannya. Bertanya benar-salah, harus percaya atau tidak terhadap info yang diberikan, tergantung bagaimana kita menyikapinya dengan bijak dan cerdas.

Pemilihan twitter sebagai sarana penyebaran informasi oleh akun anonim, menurut saya bukan tanpa sebab. Twitter dirasa sukses menjadi jejaring sosial yang paling dekat dengan public dari berbagai kalangan dewasa ini.

 

Oleh: Frieska M.