Home News Cerita Mahasiswa dan Negara Tercinta

Cerita Mahasiswa dan Negara Tercinta

677
0
SHARE

Oleh: Frieska M. & Erwin T.P*

 

Ilustrasi

Sumpah Mahasiswa Indonesia

Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah Bertanah Air Satu Tanah Air Tanpa Penindasan

Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah Berbangsa Satu Bangsa Cinta Keadilan

Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah Berbahasa Satu Bahasa Tanpa Kebohongan

Mahasiswa adalah sebutan untuk seseorang yang tengah menjalani pendidikan tinggi disebuah perguruan tinggi atau universitas. Mahasiswa adalah bibit-bibit calon kaum intelektual, lingkungan seperti apapun begitu berpengaruh dalam pola fikir mahasiswa dimasa mendatang demi tercapainya kemajuan peradaban bangsa.

Mahasiswa dan Negara ini

Begitu banyak peran serta mahasiswa beserta pegerakan yang dibuatnya, contoh-contoh pengorbanan untuk negara oleh para mahasiswa dalam konteks kepemerintahan cukup besar, diantaranya di Indonesia pertama kali muncul generasi Kebangkitan Nasional tahun 1908, yaitu lahirnya Budi Utomo, wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern.

Kehadiran Budi Utomo beserta organisasi lainnya pada masa itu, merupakan suatu episode sejarah yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai aktor terdepannya. Generasi pada tahun 1908 adalah yang pertama dalam sejarah Bangsa Indonesia. Misi utamanya ialah menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan, dan mendorong semangat rakyat melalui penerangan – penerangan pendidikan yang mereka berikan untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan kolonialisme.

Ada lagi cerita tragedi Mei 1998, mahasiswa dan pergerakannya menuntut reformasi untuk dihapuskannya Kolusi Korupsi dan Nepotisme (KKN), yang akhirnya berhasil memaksa Presidean Soeharto untuk mundur dari jabatannya. Itulah contoh dua kasus pergerakan mahasiswa di zaman yang berbeda, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Meskipun dewasa ini terjadi banyak oknum yang mengatasnamakan mahasiswa sebagai pembuat ulah suatu insiden (Semoga saja publik tidak cepat bergeser pandangannya). Bahwa masih ada sisi lain dari seorang mahasiswa. Semua yang telah dibuat oleh mahasiswa adalah, salah satu bentuk perjuangan mereka agar negara tercinta bisa menempatkan dirinya kearah yang lebih baik.

Awal desember lalu, Rabu, (7/12). Terjadi tragedi yang sangat menyayat hati. Seorang pria membakar dirinya tepat di depan Istana dalam acara kamis-an di depan Istana Merdeka. Semua terjadi diluar dugaan. Siapakah dia? bergelut kabar selama 48 jam tentang identifikasi orang tersebut, akhirnya terkuak juga.

Ialah Sondang Hutagalung, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno. Nekat melakukan aksi bakar diri di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, menjelang sore hari. Sontak semua orang di sekeliling kaget melihat aksinya. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun, Sondang meninggal dunia. Ananda tercinta dari Pirto Hutagalung dan Saurdame Sipahutar dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Kelapa, Sabtu, (10/12), tepat pada hari Hak Asasi Manusia.

Sementara itu, kepala sekretariat Fakultas Hukum UBK bercerita kepada Diamma.com, “dimata mahasiswa lainnya, sondang di kenal baik dan rajin di setiap aktifitasnya, dia tidak aktif di kampus, tetapi dia aktif di organisasi luar kampus yakni Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras),” Ujar dian.

Sampai saat ini belum di ketahui motif dari pembakaran diri tersebut. Jika memang benar tindakan ini adalah bukti kekecewaan Sondang terhadap skandal pemerintah yang belum terselesaikan. Apakah ini pertanda semakin “sakitnya” negara ini?. Apalah artinya ini semua jika mereka tetap menutup hati, mata dan telinganya. Yang mereka lakukan semata-mata hanya untuk mewakili suara hati rakyat Indonesia. Karena kami rindu kejayaan, kami rindu kemenangan, kami rindu kemerdekaan, kami tidak ingin rakyat terus kebingungan. Terimakasih kepada kawan-kawan aktivis mahasiswa atas pengorbananmu. Masih banyak cara bagi mahasiswa untuk berjuang dalam rangka membenahi polemik di negeri ini. Semoga kejadian tersebut tidak terulang lagi.

*penulis adalah Redaktur Pelaksana Online LPM Diamma Fakultas Ekonomi dan Redaktur Online LPM Diamma Fakultas Ilmu Komunikasi