Home News Teguran Tuhan, Peringati 7 Tahun Tsunami Aceh

Teguran Tuhan, Peringati 7 Tahun Tsunami Aceh

1157
0
SHARE

Oleh: Dila Putri*

Ilustrasi luluh lantahnya bangunan akibat Tsunami Aceh, 26 Desember 2004 Silam. (Foto: Photobucket)

Tuhan, marahkah Kau padaku

Inikah akhir duniaku

Kau hempaskan jari-Mu di ujung Banda

Tercenganglah seluruh dunia (Indonesia Menangis, dipopulerkan oleh Sherina)

Ingatkah kita dengan penggalan lagu itu?. Tujuh tahun lalu, di tengah gegap gempita perayaan hari Natal. Ketika semua orang bergembira, berlibur, bercengkrama dengan keluarga.

Namun, dengan seketika Dunia tercengang. Dunia terpana. Semua mata tertuju pada Ibu Pertiwi. Pagi itu, pada 26 Desember 2004 silam, gelombang laut sebesar 9.3 Skala Ritcher, menghempaskan seisi Banda Aceh. Orang-orang berteriak, berhamburan, mencari perlindungan. Keluarga dan harta mereka terbawa oleh gelombang dahsyat. Senyum yang baru menghiasi paras mereka, terganti dengan tangis, air mata, dan doa mohon keselamatan.

Kita tengok sejarah. Terjadi kerusuhan di sana. Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang terus gigih memperjuangkan kemerdekaannya, berseteru dengan pemerintah Indonesia. Banyak korban yang berjatuham, banyak nyawa yang terenggut dalam konflik itu.

Mungkin tidak salah jika kita mengucap syukur dibalik bencana itu. Aceh bersatu. Semua orang bersatu, bantuan berdatangan. Tak pandang di bawah bendera apa mereka bernaung, semua mengais-ngais benda yang tersisa, mecari keluarga yang terpisah. Tsunami hanyalah ‘sentilan dari Tuhan’ untuk kita umat-Nya yang tak henti berseteru.

Kini, Aceh telah kembali menunjukan senyumnya. Semua bersatu demi membangun Aceh. Tak ada lagi gerakan separatis, semua berdamai. Tak putus Doa mereka sampaikan untuk keluarga mereka yang lebih dahulu di temui Sang Pencipta.

Namun, Ibu Pertiwi belum tersenyum lega. Konflik dimana-mana. Masih banyak rakyat tak bersalah mati karena hujan peluru.

Harus kah Tuhan hempaskan jari-Nya lagi di Bumi Pertiwi agar kita bersatu?. Apalah daya kita Manusia?. Hanya doa yang kita punya. Doa untuk mereka yang masih dirundung konflik, untuk mereka yang telah lebih dulu bertemu Sang Khalik. Doa agar kita tak di beri lupa. Lupa untuk bersyukur, dan menjaga titipan-Nya. Agar Bumi Pertiwi, tak lagi ‘disentil Tuhan’.

*penulis adalah Redaktur Cetak LPM Diamma Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Hubungan Internasional semester 3