Home Kampus Agrawitaka, Relawan Untuk Bencana Letusan Merapi

Agrawitaka, Relawan Untuk Bencana Letusan Merapi

582
0
SHARE

Ketika meletusnya gunung merapi banyak orang yang melarikan diri untuk menyelamatkan diri, namun tidak untuk kedua anggota UKM AGRAWITAKA UPDM(B)yang menantang maut untuk membantu sesama.

oleh Fadhis abiie, Hikmah Rani

Diamma – Pasca meletusnya gunung merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta, banyak orang tergerak untuk menjadi relawan korban merapi, salah satunya UKM AGRAWITAKA UPDM(B). Sabtu, 6 November 2010, Agrawitaka mengirim dua anggotanya yaitu Andi Sabrina dan Ronal Mediansyah. Mereka dikoordinasikan melalui Manadri dari Bandung. Sabrina, mahasiswa Fikom 2009 ini, bertugas  dibagian pendataan dan logistik yang bertempat di kecamatan ngeplak 15 km dari kota Bandung, sedangkan Ronal, mahasiswa FE 2005, dilibatkan dalam pencarian korban di lingkungan sekitar merapi. Adapun tujuan dan semangat yang mendasari didalam hati mereka sebagai relawan ialah untuk  saling membantu antar sesama.

Permukaan tanah yang tertutup oleh debu vulkanik dimuntahkan dari gunung merapi menjadikan medan perjalanan sulit untuk di tempuh, “sehingga kaki Ronal sempat terperangkap di lubang yang terdapat abu panas dalam proses pencarian korban, untungya sepatu boot yang dipakai berukuran setengah lutut masih melindungi,” tutur Ronal. “Membantu, melihat dan mengangkat korban merapi adalah tugas, dan melihat letusan merapi menjadi hal yang tidak dapat dilupakan,” ucap Ronal, lelaki berkulit putih. Selain abu vulkanik yang menjadi kendala saat pencarian korban merapi, perbedaan bahasa pun menjadi kendala bagi mereka dalam membantu para korban letusan merapi dikarenakan banyak korban yang tidak bisa berbahasa indonesia. Namun, bantuan dari relawan lainnya dapat menerjemahkannya sehingga menjadi solusi bagi mereka.

Mengikuti standar operasional prosedur (SOP) seharusnya mereka berada ditempat kejadian selama 14 hari, namun dengan kondisi yang tidak memungkinkan mereka kembali pulang pada pagi hari, 16 November 2010, terhitung 10 hari mereka menjadi relawan dan berada di sana. Harapan pun terlontar dari kedua relawan Agrawitaka, “bersikap ikhlas dengan apa yang hilang, sabar dalam menghadapi musibah ini dan jangan mengandalkan orang lain dikarenakan perubahan datang dari kita sendiri,” ucap Sabrina dan Ronal.