Home Kampus Sosok Amarlenie Siregar, yang Baik juga Tegas Dimata Mahasiswa dan Keluarga

Sosok Amarlenie Siregar, yang Baik juga Tegas Dimata Mahasiswa dan Keluarga

94
0
SHARE
Amarlenie Siregar. Foto: Facebook.com/Amarlenie Siregar

Diamma.com- Amarlenie Siregar, Dosen Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) meninggal pada, Senin (21/12) lalu pukul 06:32 WIB.

Kabar tersebut menimbulkan duka tersendiri bagi civitas akademika UPDM (B), keluarga, dan mahasiswa. Beliau merupakan sosok yang sangat tegas, asyik, dan selalu mendidik mahasiswanya dengan baik.

Hal ini disampaikan oleh Azura Muthiah Khairunnisa, salah satu mahasiswi Fikom 2018 yang pernah diajar sekaligus cucu dari beliau, bahwa ia merupakan sosok dosen yang memiliki loyalitas tinggi dalam mendidik mahasiswanya serta memiliki ciri khas tersendiri dalam mengajar.

“Orangnya baik, tegas dan asyik banget, tidak paham lagi oma tuh salah satu orang yang paling gue sayang di dunia ini. Dia ga pernah pelit sama sekali. Ke gue, keluarga, bahkan ke mahasiswa yang pernah dia ajarin dia ga pernah pelit sama sekali,” tutur Azura.

“Dia selalu bisa kasih pendapat yang bagus banget selalu memberikan gue ilmu yang bagus banget,” lanjutnya.

Senada dengan Azura, mahasiswa Fikom lainnya, Kevino Dwi Velrahga juga menuturkan bahwa beliau sosok yang baik dan ramah. Selain itu, Amarlenie Siregar merupakan dosen yang komunikatif terhadap mahasiswa.

“Saya sempat diajar oleh beliau waktu semester tiga. Walaupun beliau terlihat jutek, tapi kalau sudah kenal sebenernya beliau adalah sosok yang baik banget dan tegas. Jelas almarhumah akan selalu dikenang oleh mahasiswa-mahasiswinya. Semoga almarhumah bisa tenang di sana dan keluarga yang ditinggalkan bisa diberikan ketabahan,” katanya.

Selain dosen yang baik dan tegas, Nasrullah yang merupaka rekan dosen dari Amarlenie Siregar juga mengungkapkan bahwa beliau telah dianggap figur ibu oleh semua dosen dan karyawan. Bukan hanya itu, ia juga merupakan orang yang egaliter dan berbicara apa adanya.

“Dia dianggap figur ibu oleh semua dosen dan karyawan Fikom. Saya memanggilnya ‘bunda’. Sebagian yang lain memanggil dengan sebutan oma. Untuk urusan ringan, dia sangat peduli. Beberapa hal yang kelihatannya sepele tapi menjadi penanda figur keibuan yang sangat kuat,” ucap Nasrul.

“Dia orangnya egaliter dan kalau bicara apa adanya. Meski beda umur cukup jauh. Jadi kalau bicara pun lebih enak. Karena tidak harus pakai unggah ungguh. Almarhumah saat ke kampus sering membawakan makanan untuk dibagikan ke orang sekitar. Meski kelihatan hal sepele, tapi banyak orang mengingatnya sebagai figur ibu yang penuh perhatian,” pungkasnya.

Penulis: Donny Alamsyah
Editor: Rianty Danista