Home News Inspiratif, PNS Ini Bawa Xylarium Indonesia Jadi Nomor 1 di Dunia

Inspiratif, PNS Ini Bawa Xylarium Indonesia Jadi Nomor 1 di Dunia

183
0
SHARE
Ilustrasi Xylarium Bogoriense, perpustakaan berbagai jenis kayu. Foto: Bisnis.com

Diamma.com – Satu tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 28 September 2018, tempat koleksi berbagai spesimen jenis kayu Xylarium Bogoriense 1915 berhasil menjadi xylarium nomor satu di dunia. Posisi tersebut dideklarasikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya di hadapan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Yogyakarta.

Rupanya, prestasi tersebut tak lepas dari sosok PNS yang inspiratif. Adalah peneliti anatomi tumbuhan pada Puslitbang Hasil Hutan, Badan Litbang dan Inovasi Dr. Ratih Damayanti yang menjadi dalang di balik kesuksesan Xylarium Bogoriense. Hal ini diungkapkan oleh akun resmi Kementerian LHK di Instagram.

“Di bawah kepemimpinannya, Xylarium Bogoriense 1915, tempat koleksi berbagai spesimen jenis kayu, berhasil menjadi xylarium nomor satu dunia. Posisi itu dideklarasikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan di hadapan Presiden Republik Indonesia pada 28 September 2018, di Yogyakarta,” tulis @kementerianlhk di Instagram, Kamis (31/10/2019).

“Bapak Presiden yang kami hormati, Xylarium Bogoriense menurut International Association of World Anatomist merupakan xylarium nomor satu di dunia,” ucap Menteri Siti kala itu.

Dari xylarium, lahir karya inovatif berupa sistem identifikasi kayu di Indonesia. Dimulai dari anatomi kayu 3D, basis data lignoindo, pengelompokkan kayu perdagangan Indonesia, Wood ID AIKO, dan AIKO-KLHK.

Pasalnya, Alat Identifikasi Kayu Otomatis (AIKO) KLHK mampu mengindentifikasi ratusan jenis kayu hanya dalam satu aplikasi. Kehadirannya sangat bermanfaat, tidak hanya karena dapat memangkas waktu identifikasi dari 2 minggu menjadi hitungan detik, melainkan juga hasil yang akurat.

“Yang kita gunakan alat yang sangat murah dan itu basicnya Android. Jadi untuk Android ini yang pertama di dunia dinamakan AIKO-KLHK versi 1. Karena baru memuat yang kayu-kayu perdagangan saja. Selanjutnya kita akan terus sampai semuanya selesai, sekitar 4000 jenis itu. Jadi hanya cukup disayat penampang lintang, kemudian difoto melalui aplikasi kita dan dalam hitungan detik akan keluar hasilnya,” jelas Ratih.

Dengan demikian, AIKO-KLHK sangat mendukung kegiatan industri dan bioforensik. Pada akhir Agustus 2019 lalu, AIKO-KLHK resmi diluncurkan untuk publik. Siapa saja dapat mengaksesnya di Google Play Store.

Pujian pun datang dari berbagai pihak. Salah satunya adalah Senior Wood Anatomist Prof. Pieter Baas. Dia mengucapkan selamat bagi Xylarium Bogoriense karena berhasil mengkoleksi lebih dari 185 ribu spesimen.

“Saya mengucapkan selamat kepada Xylarium Bogoriense, yang berhasil mencapai koleksi lebih dari 185 ribu spesimen, sehingga menjadi xylarium terbesar di dunia,” kata Pieter.

Selain itu, ucapan datang juga dari Wood Anatomist Australia Assoc. Prof. Jugo Ilic. Dia mengaku kagum dengan Ratih yang berhasil membawa Xylarium Bogoriense ke puncak kesuksesan.

“Ratih Damayanti adalah seorang ilmuwan anatomi kayu yang sangat cakap. Dia bertanggung jawab dalam pencapaian Xylarium Bogoriense menjadi terbesar di dunia,” puji Ilic.

Sekilas Tentang Ratih Dayamanti

Ratih Damayanti dikenal sebagai sosok yang ramah, profesional, dan inovatif. Kecintaannya pada anatomi kayu serta posisinya sebagai Kepala Laboratorium Anatomi Lignoselulosa membuat Ratih memiliki peran penting mengukir sejarah anatomi tumbuhan di Indonesia.

Sejak awal, Ratih mengaku jatuh cinta pada anatomi kayu. Dirinya merasa bahwa kayu adalah ciptaan Tuhan yang paling indah.

“Saya jatuh cinta pada anatomi kayu. Keindahannya membuat saya terpesona. Kayu diciptakan dengan sangat luar biasa, sistematis, teratur, serta mempunyai korelasi mengagumkan pada struktur dan fungsinya,” ungkap Ratih.

“Ini kekuasaan Allah SWT, Sang Maha Pencipta, menjadikan pohon sebagai sumber kehidupan manusia. Karenanya saya ingin mengajak orang-orang untuk lebih mengenal kayu dan mencintai pohon,” lanjut sekaligus ajaknya.  

Penulis: Adhyasta Dirgantara
Editor: Octavia Dwi Lestari