Home Sorot Keren, Seorang Kakek di Jepang Melukis Menggunakan Microsoft Excel

Keren, Seorang Kakek di Jepang Melukis Menggunakan Microsoft Excel

263
0
SHARE
Tatsuo memamerkan hasil karyanya yang menggunakan Microsoft Excel. Foto: twitter.com/Great Big Story

Diamma.com- Kebanyakan orang yang  melukis pasti membutuhkan membutuhkan berbagai jenis cat dengan beragam warna, kanvas yang berkualitas, dan berbagai macam bentuk kuas untuk menghasilkan lukisan yang bagus dan tahan lama.

Uniknya seorang kakek di Jepang bernama Tatsuo Horiuchi tidak membutuhkan itu semua dalam kegiatannya melukis. Kakek berusia 77 tahun ini sudah belasan tahun melukis menggunakan software Microsoft Excel.

Microsoft excel sendiri bukanlah program yang digunakan untuk melukis, namun dimanfaatkan untuk membuat tabel akuntansi atau menyusun data dan jadwal.

Sejak pensiun, ia berpikir untuk mengisi waktunya dengan melukis. Ia pun merasa tertantang untuk melukis tanpa mengeluarkan uang untuk membeli peralatan melukis pada umumnya. Akhirnya Tatsuo mulai melukis dengan PC.

 “Ide ‘pelit’ semacam ini membuatku memilih Excel,” ucapnya dilansir dari Great Big Story.

Dengan modal sebuah PC dan printer, ia dapat menghasilkan karya lukisan yang menakjubkan. Orang yang melihat pasti berfikir lukisan tersebut menggunakan teknik umum dalam melukis.

Ide anehnya ini dia lakukan selama bertahun-tahun bukan tanpa celaan dari orang lain
“Ada banyak orang yang mengolok-olok saya,” kata Tatsuo.

Celaan yang  diterima dijadikan angin lalu saja bagi Tatsuo. Dengan keunikannya, ia banyak dilirik dan mulai terkenal ketika ia mengikuti Excel Autoshape Art Contest di tahun 2006. Para juri terpukau dengan hasil karyanya yang lain dari kontestan lainnya. Sehingga Tatsuo memenangkan juara pertama dan hasil karyanya dipajang di Local Gunma Museum of Art.

Seni tidak akan permah ada habisnya. Para seniman bisa mendapatkan ide dengan membuat sesuatu dengan cara yang unik pula. Terkadang hinaan dari orang lain menjadi pacuan semangat untuk berkreasi lebih baik, juga pujian yang berlebihan dapat menjadi racun dalam konsistensi terhadap kualitas berkarya. Tinggal bagaimana pribadi masing-masing menyikapi dengan bijak kedua hal tersebut.

Penulis: Indira Difa Maharani
Editor: Octavia Dwi Lestari