Home Entertainment Gaya Hidup Peneliti: Minyak Kelapa Dapat Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

Peneliti: Minyak Kelapa Dapat Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

187
0
SHARE
Minyak dari hasil olahan kelapa. Foto: livestly.com

Diamma.com- Kelapa telah lama dikenal sebagai tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Hampir semua bagian tanaman kelapa dapat digunakan, mulai dari akar, batang, daun, hingga buahnya. Selain diolah sebagai hidangan, buah kelapa juga dapat dibuat menjadi minyak.

Banyak yang beranggapan bahwa minyak kelapa memiliki manfaat yang baik bagi tubuh. Namun, tidak dengan Karin Michels. Dilansir dari CNN Health, profesor yang berasal Leibniz Institute for Prevention and Tumor Epidemiology itu berpendapat bahwa minyak kelapa yang selama ini disebut-sebut memiliki kandungan kesehatan, ternyata adalah racun.

“Minyak kelapa mengandung lemak jenuh dan mengancam kesehatan kardiovaskular. Minyak kelapa adalah salah satu hal terburuk yang dapat Anda makan,” katanya dalam ceramah di Universitas Freiburg Jerman pada Juli lalu.

Sebuah survei yang dilakukan oleh New York Times pada 2016 silam menunjukkan bahwa 72% orang Amerika berpikir minyak kelapa itu sehat, berbanding dengan 37% dari hli gizi yang disurvei.

Senada dengan Michels, profesor epidemiologi dan nutrisi dari Harvard TH Chan School of Public Health, Dr. Walter C. Willett juga tidak memiliki bukti akan manfaat kesehatan jangka panjang yang ditimbulkan ketika mengonsumsi minyak kelapa.

“Minyak kelapa adalah sejenis lemak. Tetapi tidak sebaik minyak nabati seperti zaitun dan canola yang lebih mengandung minyak tak jenuh dan telah terbukti bermanfaat bagi kesehatan,” jelas Dr. Willet kepada CNN.

Kevin Klatt, peneliti nutrisi dari Cornell University menyatakan minyak kelapa mengandung sebagian besar lemak jenuh yang juga ditemukan pada sebagian besar produk mentega dan daging merah. Seperti lemak jenuh pada umumnya, minyak kelapa dapat meningkatkan kolesterol LDL atau kolesterol ‘jahat’ yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Namun di satu sisi, minyak kelapa juga meningkatkan kolesterol HDL atau kolesterol ‘baik’, terutama ketika mengganti karbohidrat dalam makanan. Hal ini karena tingginya kandungan asam lemak yang dikenal sebagai asam laurat.

Seperti minyak lainnya, minyak kelapa bersifat padat kalori, yang berarti mengonsumsi dalam jumlah besar tanpa mengurangi sumber kalori lain dapat menyebabkan penambahan berat badan. Organisasi kesehatan cenderung melarang penggunaan minyak kelapa karena mengandung lebih dari 80% lemak jenuh.

The American Heart Association mengatakan lebih baik menggunakan minyak kelapa di atas kulit ketimbang sebagai bahan pengolah makanan.

Asosiasi ini juga menganjurkan untuk mengganti minyak kelapa dengan ‘lemak sehat’ seperti lemak tak jenuh ganda dan lemak tak jenuh tunggal, yang terdapat dalam canola, zaitun, alpukat dan lemak ikan.

Para peneliti juga menjelaskan, penggunaan minyak kelapa diperbolehkan bila masih dalam tahap yang wajar dan tidak berlebihan.

Penulis: Asri Muspita Sari
Editor: Siti Nurmayani Putri