Home Travel Destinasi Asal Muasal Curug DengDeng Leuwibatu

Asal Muasal Curug DengDeng Leuwibatu

574
0
SHARE
Salim, sesepuh kampung Leuwibatu yang mengetahui asal muasal Curug DengDeng Leuwibatu. Foto: Diamma.com/Iqbal Fauzan

Diamma.com – Curug DengDeng terletak di daerah Leuwibatu, Rumpin, Bogor. Perbatasan Leuwiliang dan Cigudek masih sepi pengunjung karena akses jalannya yang belum memadai.

Daerah ini identik dengan daerah perkampungan yang di sepanjang jalannya masih banyak terlihat sawah, ladang, dan pohon karet. Curug DengDeng ini belum memiliki lahan parkir. Pasalnya, untuk menuju Curug Dengdeng jalannya sangat kecil dan banyak berbatuan maka diharuskan untuk berjalan ketika sudah dekat.

Awal mula terbentuknya Curug Dengdeng pun masih dipertanyakan, “Ya babeh sih tidak tahu bagaimana bisa terbentuknya curug ini,  tahu – tahu sudah jadi seperti ini saja. Keunikan yang dimiliki Curug Dengdeng ini adalah adanya 2 batu besar yang berada diatas air terjun jadi batu yang kecil dibawah dan yang besar diatas, tetapi batu itu tidak pernah jatuh. Namun awal mula dinamakannya Curug Dengdeng ini dikarenakan pada dijaman dahulu jadi ada Seorang lelaki yang memiliki istri muda yang memiliki anak 2, Jabariah Jeung Qodariah satu laki dan satu perempuan ya namanya ibu tiri, jadi kalo ada bapanya baik, kalo tidak ada di maki-maki,” kata Salim (65) selaku warga di Leuwibatu.

“Jadi bapanya itu denger-denger dari tetangga bahwa si ibu tiri memiliki dua muka, lantas sang suami atau sang bapak pulang dari usahanya, ia mengajak anaknya yu urang kesana kata bapanya ayo ikut mandi ikut main-main, Sebelum ibunya tidak tahu dibawa ke curug ini makan enak lah, makan dengan ikan dengdeng. Jadi batu batu ini sama seperti ikan dengdeng dan akhirnya dinamakan curug Dengdeng. Jadi yang pada datang kesini orang muda dan berkepentingan, yang memiliki kepentingan pribadi seperti meminta kepada jabariah untuk pekerjaan tapi memiliki syarat. Syaratnya itu kita harus baik sama orang saling tolong menolong disaat kepepet. Sama seperti kisah Jabariah yang dulu kepepet. Tapi babeh juga bukan kata orang-orang, bukan rekayasa, bukan kata orang sini, Tapi bicara kaya gini-gini kadang ada yang nyuruh ada pas,” lanjutnya.

Reporter: Iqbal Fauzan
Editor: Alya Farah