Home News Internasional Antisipasi Konflik Agama Berlanjut, Facebook dan Whatsapp di Blokir Pemerintah Sri Lanka

Antisipasi Konflik Agama Berlanjut, Facebook dan Whatsapp di Blokir Pemerintah Sri Lanka

223
0
SHARE
Tindakan pemerintah Sri Lanka mengenai pemblokiran social media, merupakan langkah yang baik untuk mencegah penyebaran kebencian Antaragama. Foto: Diamma.com/Ivan Nurhidayat

Diamma.com – Pemerintah Sri Lanka melakukan pemblokiran terhadap media sosial dan aplikasi layanan pesan singkat pasca kerusuhan antaragama yang terjadi di Kandy sejak beberapa hari lalu. hal tersebut dimaksudkan untuk menghentikan provokasi dan penyebaran kebencian agar tidak terus berlanjut.

Seorang pejabat perusahaan internet yang tak menyebutkan identitasnya berkata, “pemerintah memerintahkan pemblokiran Facebook, Instagram, Viber, dan Whatsapp, di daerah tertentu yang mengalami kerusuhan,”

Sejumlah kelompok Buddha memberi beberapa tuduhan kepada sekelompok muslim seperti, memaksa orang untuk masuk Islam, menuduh muslim merusak situs arkeologi Buddha. Namun, kelompok muslim telah menyangkal tuduhan itu.

Massa Buddha di Sri Lanka melakukan penyerangan terhadap masjid dan bisnis-bisnis milik umat Islam. Kerusuhan semakin parah sejak kemarin, setelah mayat seorang pria Muslim ditemukan di rumahnya yang terbakar.

Akibat kejadian ini, parlemen Sri Lanka menyampaikan permintaan maaf kepada kelompok minoritas Muslim di Kandy.

Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena melakukan tindakan untuk menetapkan keadaan darurat selama tujuh hari guna meredam kekerasan berlanjut.

Juru Bicara kepolisian setempat, Ruwan Gunasekara mengatakan, ada beberapa insiden pada Selasa (6/3) malam kemarin di daerah Kandy, Sri Lanka. Polisi telah melakukan penangkapan terhadap 7 orang terkait kerusuhan itu.

“Polisi menangkap tujuh orang. Tiga petugas polisi terluka dalam insiden tersebut,” katanya kepada Reuters.

Meski demikian, Dalam insiden ini, belum ada informasi jelas mengenai berapa jumlah warga lokal yang menjadi korban.

Penulis: Ivan Nurhidayat
Editor: Alya Farah
(Dilansir dari beberapa sumber)