Home Entertainment Budaya Mengenal Pendidikan Sejarah Melalui Komunitas

Mengenal Pendidikan Sejarah Melalui Komunitas

145
0
SHARE
KHI Jakarta Heritage Trails Chinatown Journey KHI 9

Diamma.com – Sejarah merupakan peninggalan atau pengalaman yang terjadi pada masa lalu, dan biasanya sejarah merupakan pelajaran yang menjenuhkan bagi kalangan generasi muda.

Namun lain halnya dengan Komunitas Historia Indonesia (KHI), yaitu suatu komunitas di Jakarta yang bertujuan untuk membuat program-program dibidang sejarah agar menjadi menarik, ringan dan menyenangkan, dengan berjalan-jalan ketempat bersejarah.

Namun pada tahun 2005, KHI tidak hanya bertujuan untuk berjalan-jalan ke tempat bersejarah, tetapi juga sebagai wadah untuk membangun nasionalisme dan kesadaran terhadap sejarah.

Berdirinya KHI berawal dari keprihatinan beberapa mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Indonesia (UI) terhadap kondisi masyarakat yang enggan mempelajari sejarah dan budaya.

Kemudian pada forum rapat yang dilaksanakan pada 22 Maret 2003 di kampus UNJ Rawamangun yang dihadiri beberapa orang mahasiswa dari UNJ dan UI. KHI diresmikan dan memutuskan Asep Kambali, yang ketika itu Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, sebagai pendiri/ketua KHI.

Berbagai kegiatan pun telah dilakukan oleh KHI seperti Wisata Kampung Tua, Wisata Kota Tua, Wisata Bahari, Wisata Malam Kota Tua, Night at The Museum (Menelusuri Museum di malam hari), dan masih banyak lagi kegiatan lainnya.

Selain itu, KHI juga memperoleh berbagai penghargaan seperti Most Recommended Consumer Community Award by SWA Magazine, The Best Enterpreneurial & Business Consumunity Award by Prasetya Mulya Business School, dan World Summit Youth Award.

“Keanggotan KHI saat ini kurang lebih sudah mencapai 23.000 anggota di seluruh Dunia seperti Eropa, Amerika, Australia dan mayoritas dari Indonesia yaitu di wilayah Jakarta”, tutur Asep Kambali selaku ketua KHI.

Lanjutnya, “untuk berkomunikasi dengan anggota KHI, biasanya kita melalui website, Media Sosial seperti Facebook dan Twitter, serta melalui Blackberry Messager”.

Dan bagi yang ingin bergabung dengan Komunitas Historia Indonesia ini, dapat mengisi langsung formulir secara gratis di website http://www.komunitashistoria.org, akan tetapi apabila ada anggota yang ingin membuat Id Card dikenakan biaya Rp 25.000,- atau membuat T-Shirt dengan biaya Rp 85.000,-.”

“Banyak banget pengalaman, pengetahuan tentang sejarah-sejarah, dan bertemu dengan teman-teman. Apa lagi saat Wisata Bahari di Pulau Seribu, disana kita berkeliling pulau dan diterangkan tentang sejarahnya”, Ucap Krisna Novianti, salah satu anggota KHI yang telah bergabung sejak tahun 2009.

Novi juga berharap, ”Semoga kedepannya KHI menjadi lebih baik lagi dan semakin dikenal oleh semua masyarakat, tidak hanya di Jakarta saja, tetapi juga bisa sampai ke daerah-daerah lain.

Kegiatan selanjutnya,  KHI akan mengadakan acara Cosplay-nya Indonesia mengenai Pangeran Diponegoro yang rencana akan dilaksanakan bulan November nanti, sekaligus memperingati Hari Pahlawan.

Untuk kesekertariatan KHI yang semula berlokasi di kediaman Asep sendiri yaitu di Jalan Pejompongan Baru No.15A, Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210 Indonesia, namun saat ini Asep pindah dari kediamannya yang lama, ke Apartement City Garden Cengkareng-Jakarta Barat, dan sekaligus sebagai sekertariatan KHI yang baru.

Pria berkaca mata ini pun berharap, ”Agar semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa sejarah dan budaya itu penting. Dan mereka harus memahi, karena sejarah dan budaya merupakan ciri khas dari suatu bangsa. Indonesia tiap harinya lahir 5.000 bayi, dari puluhan ribu puskesmas, dan kalau mereka tidak diberikan kesadaran sejarah dan nasionalismenya, mereka akan menjadi penjahat apabila tidak diberikan pendidikan, karena pendidikan yang rendah identik dengan kemiskinan dan kemiskinan identik dengan kejahatan. Sehingga semakin banyaknya penjahat saat ini, dan kita mencoba mencenggah dengan program-program pendidikan sejarah, terutama untuk anak-anak generasi muda,” harapnya

Reporter: Achmad Rafiq / Fotografer: Achmad Rafiq

Editor: Tri Susanto Setiawan