Home News Jakarta Tak Sekilau Tugu Monas

Jakarta Tak Sekilau Tugu Monas

213
0
SHARE
Ilustrasi Jakarta

Diamma.com – Dalam Pilkada Gubernur DKI Jakarta 2012, enam kandidat bakal bersaing untuk menduduki jabatan orang nomor satu Ibu Kota Jakarta 2012-2017. Masyarakat berharap ada perubahan untuk kota yang berantakan ini, sesuai visi dan misi masing-masing dari para kandidat.

Dari enam kandidat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur tersebut, empat pasang diusung oleh partai politik, seperti pasangan Joko Widodo (Jokowi) – Ahok, Alex Noerdin-Nono Sampono, Hidayat Nur Wahid – Didik J. Rachbini.  Sedangkan dua Kandidat Pasangan Independen Hendardji Soepandji – Riza Patria dan Faisal Basri- Biem Benjamin.

Dan terakhir Gubernur saat ini Fauzi Bowo (Foke)   ingin kembali menduduki kekuasaan  . Namun kali ini bukan dengan pendampingnya Prijanto, melainkan Nachrowi Ramli untuk mendampingi Foke dalam adu janji-janji manis kepada masyarakat untuk meraih kekuasaan di Ibu Kota.

Para Cagub dan Cawagub ini mulai mengobral-obral janji dan langkah mereka untuk mencapai tujuan yang mereka capai. Selayaknya seorang anak muda  yang tengah merayu wanita muda yang disukainya, dengan harapan  menjadi pacar.

Masyarakat tidak membutuhkan janji manis belaka, karena lidah tidak bertulang. Yang dibutuhkan adalah kinerja dan bukti-bukti yang konkrit untuk warga DKI Jakarta. Bukti-bukti adanya perubahan yang mengarah positif, menjadi nilai baik kepada warga Jakarta pada pemilihan putaran pertama 11 Juli 2012.

Masyarakat mengharapkan adanya kemakmuran, kedamaian, dan kelancaran lalu lintas untuk setiap beraktifitas, serta biaya pendidikan dan kesehatan yang tidak mahal.

Kota Jakarta sejak dahulu merupakan sumber mata pencaharian bagi siapa saja para pendatang beradu nasib.Istilah tangan kosong dengan modal nekat ke Ibu Kota, yang beberapa tahun kemudian bisa menjadi orang yang sukses bagaikan pahlawan yang dipuja. Hal tersebut membuat seseorang yang mendengarnya termotivasi untuk datang ke Jakarta. Namun itu zaman dahulu, yang akan dijadikan sejarah.

Sementara, seiring perkembangan teknologi yang sudah semakin canggih, pembangunan yang sudah maju, cagar-cagar langit menghiasi kota metropolitan dengan gedung-gedung berisi kantor, hotel, pusat perbelanjaan, apartemen, dan serta pembangunan lainnya.Namun di kawasan Jakarta lain masih terdengar dan terlihat kemacetan, kumuh, kemiskinan, anarkis, kejahatan,  pengemis, pemulung, Pekerja Seks Komersial (PSK), dan hal-hal buruk lainnya.

Jakarta yang memiliki lambang yakni Monas yang tugunya berwarna emas berkilau, namun untuk saat ini tidak sesuai dengan lambangnya . Dimana masih banyakny aksi anarkis antar Organisasis Masyarakat (Ormas) yang selalu mementingkan kepentingan mereka dari pada kepentingan umum.

Anak kecil yang selalu meminta-minta di lampu merah, kendaraan roda dua dan empat sedang berhenti melihat anak kecil dengan mempertunjukkan kekurangannya, membuat perhatian untuk memberi seikhlasnya kepada anak kecil.

Ibu-ibu membawa bayi yang masih berusia bulanan, harus terkena polusi dan duduk di trotoar turut mencari nafkah demi sesuap nasi dan susu.

Anak-anak berandalan yang disebut sebagai ‘Anak Punk’, menyanyi sambil membawa gitar menampilkan kekusaman dan keseraman di lampu merah dan bus kota. Mereka mencari nafkah, hanya untuk sebuah kaleng berisi lem untuk dihisap beramai-ramai di sebuah taman.

Pada malam hari, banyak wanita-wanita dengan berpakaian seksi dan polesan di wajah agar terlihat lebih menawan.  Membuat perhatian di jalan raya, untuk mengajak pergi pengendara yang belum dikenal beranjak ke suatu tempat dengan persetujuan harga diri yang dihargai berupa mata uang.

Lingkungan Jakarta yang kotor, seperti Kali Ciliwung ke Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan dengan tumpuk-tumpukkan sampah yang selalu menjadi hiasan Jakarta menjadi ciri khas kumuh.

Ini yang bisa disebut masa depan Jakarta? Ibu Kota  ingin bersinar bagaikan emas, apakah hanya sebuah harapan kosong yang hanya bisa dilaksanakan bagi para Pemimpin yang adil, dan Jujur serta mementingkan rakyat dari pada mementingkan kepribadian dan kelompoknya.

 

Oleh : Novriadji

Editor: Bagus Prayogo.