Home Travel Kota Tua Tak Seperti Gedung Tua

Kota Tua Tak Seperti Gedung Tua

2
0
SHARE

Ladang emas musiman

Oleh Karin

Diamma – Meski harga tiket terus melonjak para supporter rela merogoh kocek lebih dalam demi menyaksikan langsung timnas Indonesia menjamu tim lawan. Namun ladang emas nyatanya bukan hanya milik PSSI. Banyaknya supporter yang mencari atribut timnas terutama kaos bernama punggung pemain TIMNAS diantaranya C.Gonzales, Bambang Pamungkas, mampu membuat Bardi jeli memanfaatkan kondisi dengan berdagang kaos timnas berlambangkan garuda ini. Dengan harga 50 ribu rupiah, pria berkulit sawo matang ini mampu menjual 20-50 kaos perhari, ‘’saya baru satu bulan ini mba jualan kaos bola, soalnya banyak yang cari jadi habisnya cepet, biasanya sih saya kerja serabutan,” ujar Pria lajang 40 tahun ini. Ia memilih menjajakan dagangannya di pelataran museum Fatahillah yang sesak akan pengujung di pekan liburan sekolah .

Hal ini pun diamini oleh Rosidawati wanita paruh baya penjaga toko souvenir khas museum Fatahillah, ‘’biasanya bos saya uma ngejual souvenir Fatahillah aja, mba, tapi gara-gara musim bola jadi ikut jualan kaos timnas juga, lumayan mba banyak yang beli,’’ ujar wanita berkerudung ini.

Supporter nyatanya tak hanya membawa berkah untuk mereka yang duduk nyaman dikursi kekuasaan PSSI masih banyak Bardi – Bardi lainnya yang merasakan keuntungan ladang emas musiman ini, diantaranya pejual makanan dan minuman kaki lima disekitar Stadion Gelora Bung Karno yang omsetnya meningkat drastis saat sebelum dan sesudah pertandingan digelar.

*************************

Berlibur dan Mengenang Sejarah

“Biasanya waktu liburan buat ajang reunian sama temen lama,”  ucap Fitri yang menggenakan seragam sekolah karena, dia mengurus masalah akademisnya sebelum menghabiskan waktu bersama teman-teman.

Oleh Iga Permatasari

Diamma – Liburan akhir tahun dan akhir semester kali ini tak jauh beda dengan liburan lainnnya. Tempat-tempat wisata ramai dikunjungi, salah satunya kawasan Kota Tua yang merupakan jantung historis kota Jakarta.

Saat berbincang dengan pelancong lokal bernama Scarlett dan Fitri, mereka memilih Kota Tua sebagai tempat liburan karena, nilai historis dan nilai fotografi yang bisa didapatkan. “Lagian, liburan di sini murah,” ujar Scarlett, gadis kelas 2 SMA yang berusia 16 tahun sambil tersenyum. Bagi Scarlett, Fitri dan 3 orang temannya, liburan selama 2 minggu ini adalah waktu untuk refreshing dan menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman. “Biasanya waktu liburan buat ajang reunian sama temen lama”, ucap Fitri yang menggenakan seragam sekolah karena, dia mengurus masalah akademisnya sebelum menghabiskan waktu bersama teman-teman.

Di sisi lain, liburan sekolah adalah waktu yang menguntungkan bagi penyewa sepeda ontel seperti Robik, pria berusia 40 tahun ini awalnya diajak oleh temannya mengikuti komunitas sepeda ontel. Pria berkulit hitam ini berkata, ia sudah 3 tahun menggeluti usaha sewa sepeda ontel ini. “Kalau liburan, omset bisa naik lebih dari 50%. Tapi kalau hari biasa bisa kurang, malah saya harus kerja keras supaya nutup orderan,” ungkap Robik sambil bersandar di bawah pohon. Jadi, Kota Tua dapat dijadikan salah satu tempat rekomendasi untuk mengisi waktu liburan anda.

*************************

Jajanan Murah yang Kurang Memasyarakat

Oleh Dila Putri

Diamma – Selain menyajikan pemandangan bangunan bersejarah, tempat ini juga menyediakan berbagai jajanan murah dan sudah cukup jarang ditemukan. Diantaranya adalah es potong dan cimol isi. Sayangnya, jajanan seperti ini justru kurang dikenal oleh masyarakat.

Es potong misalnya. Jajanan yang terbuat dari campuran buah, gula pasir, sagu dan santen ini kurang dilirik oleh masyarakat. “Es potong itu yang seperti apa?,” tanya salah seorang pengunjung Kota Tua. Padahal dari segi harga, es potong jauh lebih murah jika dibandingkan dengan es yang dijual di mini market.

Begitu pula dengan cimol isi. Jajanan khas Kota Kembang ini juga dapat di temukan di kawasan Kota Tua. Sayangnya, jajanan semacam ini juga kurang dilirik oleh para pengunjung.

Hal tersebut mungkin dikarenakan lokasi berjualan mereka yang kurang strategis. “Kalau jualan di dalem diusir Satpol PP,” aku seorang pedagang es potong yang telah 3 tahun berjualan di kawasan Kota Tua. Pernyataan tersebut diamini oleh Dadat, pedagang cimol isi yang baru 3 bulan berjualan di Kota Tua.

Mungkin yang perlu dilakukan oleh pengelola kawasan Kota Tua adalah memberi ruang kepada pedagang jajanan tradisional agar bisa lebih ‘dilihat’ oleh pengunjung dan agar jajanan murah ini lebih dapat lebih dikenal masyarakat.

*************************